slideshow
REAKTUALISASI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA PDF Print E-mail
Artikel
Written by Ki Tyasno Sudarto   
Saturday, 07 April 2012 20:09

Ki Hadjar Dewantara (KHD) sejak remaja telah timbul keberaniannya melawan penjajah dengan berkelahi melawan "sinyo" anak ambtenar/pegawai Belanda. Pemikiran KHD mulai tertata di ranah politik dikala memasuki Stovia dan bergabung dengan seniornya dr Soetomo dimana KHD sebagai seksi propaganda (publikasi). Jiwa jurnalis-pejuangnya berkembang melahirkan tulisan-tulisan yang lebih tajam daripada pedang penjajah. Keluar masuk penjara penjajah sudah dilakoni KHD beberapa kali, namun bagai Gatutkaca dari Kawah Candradimuka malah semakin membuatnya tabah pantang mundur. Tulisan satire "Andai Aku Seorang Belanda" membawanya dibuang ke Negeri Belanda. Atas dorongan sang isteri, bidang juangnya diteruskan melalui bidang pendidikan dengan meneruskan pendidikan paedagogi untuk bekal mendidik bangsa. KHD sadar betul bahwa kebodohan dan belenggu penjajahan sangat menghambat kemajuan sebuah bangsa. Ditekuninya ilmu pendidikan pengajaran kemudian disesuaikan dengan pra kondisi local wisdom di tanah air. Lahirlah ajaran-ajaran KHD yang membumi namun tidak kalah bermutu dengan metoda pendidikan bangsa Eropa.

 
KONSEP KI HADJAR DEWANTARA BUKAN KEJAWEN PDF Print E-mail
Artikel
Written by Ki Priyo Dwiarso   
Saturday, 07 April 2012 20:04

Konsep budaya dan pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD) banyak mempergunakan istilah bahasa Jawa, sehingga ada yang mengatakan dengan dangkal bahwa konsep KHD berbasis Kejawen. Istilah "kejawen" dalam konteks ini bisa merugikan karena berkonotasi negatif sempit. Memang ajaran KHD banyak menggunakan istilah bahasa Jawa misalnya "tut wuri handayani", "wiyata griya", "sistem among", "ngerti-ngroso-nglakoni". Bahkan sarasehan Rebo Wagen lebih memperberat konotasi negatif tersebut. Padahal Rebo Wagen diambil KHD dari hari kelahiran Pangeran Diponegoro agar dapat mewarisi api juangnya. Sarasehan Rebo Wagen dapat dilaksanakan pada hari Minggu, Jumat atau lainnya.

 
DAHULUKAN KEWAJIBAN DARIPADA HAKNYA PDF Print E-mail
Artikel
Written by Ki Priyo Dwiarso   
Wednesday, 24 November 2010 04:54
Kepergian mbah Maridjan meninggalkan pelajaran yang penuh kearifan. Gajah meninggalkan gading, harimau meninggalkan belang, manusia meninggalkan nama, sungguh sangat tepat. Sewaktu kami tanyakan kepada beberapa kawan “Sanggupkah anda berperilaku setia layaknya mbah Maridjan abdi dalem juru kunci gunung Merapi?” Banyak orang tergagap dan tidak bisa menjawab, bahkan beberapa orang mengatakan perilaku mbah Maridjan aneh. Tapi saat kami berargumen bahwa mbah Maridjan-lah yang sewajarnya, sedang kita ini berperilaku tidak wajar. Betapa tidak, almarhum memegang teguh “amanah” tugasnya, mendahulukan kewajiban daripada haknya, menjalankan tugas dengan penuh percaya diri. Mbah Maridjan menunjukkan pribadi asli manusia Timur yang sederhana, sabar, santun, teguh setia, tepo sliro, gotong royong, menyatu dengan alam dan jaman, sadar akan kuasa kodrat Illahi, taat beragama, rela berkorban. Walau pendidikan SD tidak sempat lulus, namun mbah Maridjan belajar dengan system “learning by doing”. Tanpa sadar almarhum menerapkan konsep “setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru” memperkuat ilmu titennya membaca bahasa alam. Kepribadian spiritual ketimuran tampak kental dalam aura dan setiap perilakunya. Para petinggi RI hingga rakyat umum wajib berkaca kepada perilaku mbah Maridjan yang konsisten dengan keindonesiaan. Saat ini semua mesmedia hingga website banyak meliput berita mbah Maridjan yang setia, gagah berani “rosa-rosa”.
Last Updated on Wednesday, 24 November 2010 05:12
 
Implementasi Pendidikan Karakter melalui Kearifan Lokal di Perguruan Tamansiswa PDF Print E-mail
Artikel
Written by Ki Priyo Dwiarso   
Saturday, 20 November 2010 07:00
(Ki Priyo Dwiarso)
Presentasi di UNY tanggal 20 November 2010
I.    KODRAT ALAM  (Cirikhas 1 Tamansiswa) :
Sebagai perwujudan kekuasaan Tuhan YME mengandung arti bahwa hakekat umat manusia adalah menyatu dengan alam semesta dan tidak dapat lepas dari hukum kodrat alam. Manusia akan bahagia bila menyelaraskan diri dengan kodrat alam yang mengandung segala hukum kemajuan.
Hari berganti minggu, berganti bulan, berganti tahun selalu bertambah dan tidak pernah mundur ataupun berhenti, itulah kodrat alam kuasa Illahi. Budaya manusia selalu mengalami kemajuan dan interaksi antar bangsa tak terelakkan sesuai hukum kodrat alam. Demikianlah Ki Hadjar Dewantara (KHD) memberi pedoman olah budaya bangsa dengan TRIKON (Kontinyu, Konvergen, Konsentris)
Last Updated on Wednesday, 24 November 2010 05:11
 
Pendidikan Karakter Menuju Manusia Indonesia Seutuhnya PDF Print E-mail
Artikel
Written by Jend. Ki Tyasno Sudarto   
Saturday, 29 May 2010 07:00
Penjajahan secara fisik yang terjadi pada beberapa puluh tahun yang lalu, seiring dengan era globalisasi berganti menjadi penjajahan di bidang ekonomi, budaya dan politik. Mesmedia cetak ataupun elektronik banyak dikuasai kaum kapitalis modern, sehingga opini negara berkembang kurang bisa diapresiasi dunia internasional. Pada tahun 1922 hal ini telah diprediksi dalam tulisan Ki Hadjar Dewantara (KHD). Tentang zaman yang akan datang, maka rakyat kita ada di dalam kebingungan. Seringkali kita tertipu oleh oleh keadaan, yang kita pandang perlu dan laras untuk hidup kita, padahal itu adalah keperluan bangsa asing. Lagipula kita sering mementingkan pengajaran yang hanya menuju terlepasnya pikiran (intelektualisme), padahal pengajaran itu membawa kita kepada gelombang penghidupan yang tidak merdeka dan memisahkan orang-orang terpelajar dengan rakyatnya. Dalam zaman kebingungan ini seharusnyalah keadaan kita sendiri (culturhistorishe/local wisdom) kita pakai sebagai penunjuk jalan mencari penghidupan baru yang selaras dengan kodrat kita dan akan memberi kedamaian dalam hidup kita. Dengan keadaan bangsa kita sendiri kita lalu pantas berhubungan dengan keadaban bangsa asing.
Last Updated on Wednesday, 24 November 2010 05:13
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Page 1 of 5

Testimonials

Kalau dulu tidak ada orang yang bernama Suwardi Suryanigrat yang kemudian menjadi Ki Hadjar Dewantara, keadaan pergerakan kebangsaan Indonesia niscaya tak akan seperti yang kita alami.

- Bung Karno (Presiden RI pertama) -

Last Comment

Login Form



Online Support

Polls

Menurut pendapat anda bagaimana dengan Tamansiswa?
 

Who's Online

We have 2 guests online

Statistics

Members : 4
Content : 43
Web Links : 18
Content View Hits : 126590