Depan arrow Publikasi arrow PIJAR arrow Sistem Among Mendidik sikap merdeka lahir-batin
Sistem Among Mendidik sikap merdeka lahir-batin PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ki Priyo Dwiarso   
Jumat, 28 Maret 2008


Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara merangkum konsep yang dikenal dengan istilah Among Methode atau sistem among. AMONG mempunyai pengertian menjaga, membina dan mendidik anak dengan kasih sayang. Pelaksana “among” (momong) disebut PAMONG, yang mempunyai kepandaian dan pengalaman lebih dari yang diamong. Guru atau dosen di Tamansiswa disebut pamong yang bertugas mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu. Tujuan sistem among membangun anak didik menjadi manusia beriman dan bertakwa, merdeka lahir batin, budi pekerti luhur, cerdas dan berketrampilan, serta sehat jasmani rohani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya.

Sistem among mengharamkan hukuman disiplin dengan paksaan/kekerasan karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak. Kini orang banyak melihat tayangan kekerasan, misalnya saja film anak “Tom & Jery” yang melaksanakan hukuman kepada sesama dengan meledakkan dinamit. Hal ini tidak sesuai dengan pendidikan anak bila kita ingat sifat kodrati anak “nonton, niteni, niroke”. Sinetron tertentu ada yang dengan lugas melampiaskan kekerasan dan dendam. Sebaiknya orang tua mencermati, mengarahkan dan memilih tayangan TV di rumahnya. Sistem Among dilaksanakan secara “tut wuri handayani” dimana kita dapat “menemukenali” anak, bila perlu perilaku anak boleh dikoreksi (handayani) namun tetap dilaksanakan dengan kasih sayang.

          Ki Hadjar Dewantara menetapkan 7 azas Tamansiswa 1922 yang pada butir pertama berbunyi “Sang anak harus tumbuh menurut kodrat (natuurlijke groei) itulah perlu sekali untuk segala kemajuan (evolutie) dan harus dimerdekakan seluas-luasnya. Pendidikan yang beralaskan paksaan-hukuman-ketertiban (regering-tucht en orde) kita anggap memperkosa hidup kebatinan sang anak. Yang kita pakai sebagai alat pendidikan yaitu pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sendiri. Itulah yang kita namakan Among Methode.”

Selanjutnya butir ke-2 Azas Tamansiswa 1922 berbunyi “Pelajaran berarti mendidik anak-anak akan menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka fikirannya dan  merdeka tenaganya.”

Pendidikan sistem among bersendikan pertama Kodrat Alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Sendi kedua Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak hingga dapat hidup mandiri.

Ki Hadjar Dewantara menempatkan jiwa merdeka sebagai sifat kodrati sang anak yang harus ditumbuh kembangkan melalui pendidikan dan pengajaran.

         Ketika Ki Hadjar Dewantara melawan OO (onderwijs ordonantie) terlontar gagasan sekolah semesta dimana secara kodrati setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. Dikembangkannya juga KBM (kegiatan belajar mengajar) melalui sifat kodrati anak dalam naluri KINDER SPELLEN.

          Kinder Spellen (=dolanan anak) yaitu fase pertumbuhan jiwa makhluk hidup menuju dewasa yang menjadi “embrio” jiwa merdeka sang anak. 

Anak kucing dan satwa lain mempunyai naluri bermain (kinder spellen) kadang mengendap seolah menghadapi ancaman musuh. Demikian pula anak manusia dalam fase ini anak senang bermain misalnya dakon, petak umpet. Dengan bermain tersalurlah sifat kodrati/naluri sang anak yang bebas merdeka, sekaligus melatih ketajaman panca inderanya. Bermain dapat melatih interaksi sensoris dan motoris yaitu koordinasi otak-mata-tangan, otak-mulut-tangan.

Ki Hadjar Dewantara sering menganjurkan para pamong untuk mengajak siswa sambil “bermain” dalam memberikan pelajarannya. Misalnya pelajaran ilmu bumi (geografi) dengan menggambar pulau Indonesia pada tanah/pasir dan menandai kota-kota dengan batu, gunungnya dengan gundukan kecil, hutan dengan lumut hijau. Pelajaran menghafal abjad dengan bernyanyi/tembang, pelajaran biologi dan botani (tumbuhan) dengan bermain jalan-jalan ke sawah/kebun dsb. Bahkan pelajaran seni dengan nyanyi/tari dolanan anak hingga kini masih menjadi ciri khas perguruan Tamansiswa.

Pelajaran dengan cara bermain dalam sistem among dapat menyentuh jiwa merdeka sang anak di semua tingkat usia. Ada pula pelajaran memerdekakan jiwa, pengendalian emosi dan kecermatan dalam jenis “permainan” GOLF yang bahkan dilakukan orang dewasa/tua. Dengan bermain golf, orang mendapat kebebasan dalam udara segar, sambil berlatih sportif mengendalikan diri untuk kesabaran, kecermatan physik dan emosional. Demikian pula diklat metoda “out bond” yang sejalan dengan metoda kinder spellen.

          Kecuali kinder spellen, jiwa merdeka berkarya/berinovasi dapat pula dilaksanakan dalam pelajaran “ilmu terapan”. Dalam Azas Tamansiswa butir 2 disebutkan pula “Pamong jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik (menurut silabus) saja, akan tetapi harus mendidik siswa mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum.”

Misalnya kegiatan mading (majalah dinding) bisa dilakukan di kampung dengan isian Surat Kabar atau karya tulis warga karang taruna. Masyarakat akan merasakan manfaatnya, dan anak dapat menyalurkan naluri “bermain”nya. Demikian pula pada kegiatan Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang kreatif.

          Kinder spellen tempo doeloe masih mementingkan kemerdekaan dalam interaksi sosial misal petak umpet, gobak sodor dll, namun sekarang utamanya di kota besar “kinder spellen” banyak menjurus permainan individual. Dalam electronic game anak mampu bertahan lama seorang diri tanpa interaksi sosial. Sistem among dalam belajar-mengajar dengan metode kinder spellen secara berkelompok dapat mendidik interaksi sosial kepada peserta didik.

Praktek bermain merangsang tumbuhnya jiwa merdeka si anak, dan dalam bermain harus konsisten dan konsekuen pada aturan main yang disepakati.

Sistem among melakukan pendekatan secara KEKELUARGAAN artinya menyatukan kehangatan keluarga dengan sekolah dalam sistem wiyatagriya.

Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa kemerdekaan itu tidak tak terbatas. Kemerdekaan dibatasi oleh tertib damainya masyarakat sehingga kemerdekaan seseorang tidak dibenarkan mengganggu kemerdekaan orang lain.

Kemerdekaan diri mengandung arti kemerdekaan yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan tidak melanggar kemerdekaan orang/golongan lain.

Seseorang tidak selayaknya “dengan merdeka” meletakkan material batu/pasir di pinggir jalan, karena mengganggu kemerdekaan pemakai jalan yang lewat. Walaupun ada Perda yang mengatur dan memberi sanksi mengenai hal itu, namun banyak masyarakat yang belum faham betul arti kemerdekaan diri yang sejati. Kemerdekaan pers seorang wartawan-pun seharusnya tidak etis bila memberi informasi yang mengganggu azasi orang lain.

Pendidikan jiwa merdeka dalam sistem among ternyata tidak hanya diperlukan oleh anak-anak di sekolah/bangku kuliah, namun perlu pula adanya pendidikan jiwa merdeka kepada masyarakat luas.

Pemimpin disegala lini adalah pamong masyarakat yang selayaknya mampu mendidik masyarakat dengan system among melalui Tri Logi Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Tanpa keteladanan pimpinan di depan (ing ngarso), pro aktif mengikuti dinamika dalam masyarakat (ing madyo), kemudian menerapkan pembinaan/pengawasan melekat (tut wuri), maka pemahaman dan pelaksanaan pendidikan memerdekakan jiwa masyarakat mustahil dapat tercapai. Kalau pemimpin hanya bisa memerintah, tidak bisa memberi tauladan yang baik, hanya mementingkan pribadi atau golongannya saja, tidak bisa melakukan pembinaan dan pengawasan, maka fungsi pamong ini menyimpang dari pengertian sistem among. Pada galibnya jiwa masyarakat masih jauh dari merdeka karena dijajah kepentingan politik atau dijajah selera konsumerisme dampak iklan mesmedia. Jiwa hedonis menyesatkan manusia kedalam materialis yang parah dengan semboyan “karena berbelanja, maka aku ada”. Bagai zat karsinogen disinilah bibit koruptor kanker bangsa akan tumbuh subur.

Pembinaan jiwa merdeka di kalangan masyarakat akan memperkokoh wawasan kebangsaan dan memperkokoh jati diri bangsa sehingga dapat berdiri sejajar dengan bangsa lain di dunia. Hal ini bisa dimulai dari lingkup yang paling kecil di dalam keluarga, di sekolah, di lingkungan RT, dalam komunitas dan merambah ke seluruh lingkup nasional bangsa. Sistem among Tamansiswa ajaran Ki Hadjar Dewantara dapat membimbing menuju tercapainya insan yang merdeka lahir-batin sesuai cita-cita proklamasi 1945.

(Ki Priyo Dwiarso, Anggota Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa)


Tambahkan sebagai artikel favorit anda (21) | Pasang Artikel ini pada situs anda | Views: 1538

  Komentar (7)
RSS comments
1. andai para pendidik ku seperti kihadjar
Ditulis oleh Alamat email ini telah dilindungi dari spam bots, Javascript harus aktif untuk melihatnya website, pada tanggal : 22-05-2008 21:41
sepertinya dunia pendidikan kita memang sangat perlu untuk di refresh kembali, sistem among sudah selayaknya dapat dipahami semua pamong di republik ini 
edi www.cerdaspos.blogspot.com :?
2. Semangat Pendidikan
Ditulis oleh Alamat email ini telah dilindungi dari spam bots, Javascript harus aktif untuk melihatnya website, pada tanggal : 01-06-2008 16:56
Pendidikan di Indonesia kalau dilihat dari sudut pandang Tamansiswa sudah jelas melenceng jaung dari prinsip among itu sendiri. Oleh karena pendidikan kita saat ini bisa dibilang pendidikan pesanan kapitalis, sedngkan pendidikan di Tamansiswa memposisikan peserta didik sebagai subyek/pelaku. 
 
Melihat hal itu, sekarang apakah Tamansiswa akan tetap diam melihat kondisi pendidikan Indonesia saat ini? Sedangkan kita tahu bahwa Slogan pendidikan kita adalah "Tut Wuri Handayani", slogan itu berasal dari Tamansiswa. 
 
Apakah Tamansiswa akan tetap diam sebagi soko gurunya pendidikan Indonesia?
3. Bisakah Kita mewujudkan cita-cita KHD
Ditulis oleh Alamat email ini telah dilindungi dari spam bots, Javascript harus aktif untuk melihatnya , pada tanggal : 09-06-2008 00:29
Sungguh sangat pelik permasalahan pendidikan di Indonesia dan sepertinya mengarah ke arah yang tidak sesuai dengan yang dicita-citakan oleh Ki Hadjar Dewantara yang mana beliau mendirikan perguruan (tamansiswa) yang pada waktu itu untuk memperjuangkan rakyatnya untuk melawan penjajah tidak hanya lewat perjuangan fisik namun juga lewat pandidikan. beliau mendirikan Tamansiswa agar rakyat indonesia merdeka lahir dan batinnya.Perguruan Tamansiswa didirikan semata-mata hanya untuk rakyatnya namun kalau kita melihat realitas sekarang, dimana sekolah/perguruan tidak bisa dinikmati oleh semua rakyat hanya orang-orang yang punya uang yang bisa mengenyam pendidikan. 
Sangat jauh dengan apa yang dicita-citakan oleh Ki Hadjar Dewantara yang mencita-citakan rakyatnya merdeka lahir maupun batin. Andaikan semua sekolah/perguruan bisa menjalankan apa yang dicita-citakan KHD niscaya pendidikan di Indonesia akan maju.
4. Tanggapan atas komentar Sistem Among
Ditulis oleh Ki Priyo Dwiarso, pada tanggal : 09-06-2008 22:52
Terima kasih atas atensinya. Sejatinya sistem among adalah sistem pendidikan yang paling sesuai untuk kodrat alam Indonesia. KHD memperoleh ilmu pendidikan dari negeri Belanda, namun beliau dengan senjata Trikon mengolahnya sehingga di padukan dengan sistem yang telah ada di tanah air. Kebijakan pendidikan nasional di Indonesia jelas menyimpang jauh dari ajaran KHD. Dimulai dari kesepakatan Maroko tentang WTO, maka pendidikan di Indonesia dikelola layaknya komoditi bisnis dengan persaingan bebas, modal LN bisa masuk. Sehingga bila RUU BHP di berlakukan pendidikan anak bangsa akan benar-benar dikuasasi oleh oarng asing. September 2007 delegasi Tamansiswa telah menghadap Komisi X DPRRI untuk menyampaikan aspirasinya, juga kepada Presiden dan Mendiknas. Namun perubahan RUU BHP belum sesuai harapan kita semua. Mohon dukungan semua pihak untuk meluruskan kembali arah pendidikan nasional bagi kepentingan rakyat banyak. KHD pernah berkata pendidikan yang hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat, tiada berguna bagi bangsa. Pendidikan harus dinikmati oleh seluas-luasnya rakyat. itulah yang bermanfaat bagi bangsa. Pendidikan yang hanya mementingkan intelektual, akan membuat kaum terpelajar semakin jauh dengan rakyatnya. Salam bahagia
5. Ditulis oleh Alamat email ini telah dilindungi dari spam bots, Javascript harus aktif untuk melihatnya , pada tanggal : 03-07-2008 21:14
aku sedih banget kalo liat sistem pendidikan kita sekarang. 
kurikulum ga jelas, UAN ga menjamin kualitas manusia, mental yang makin bobrok, murid-murid yang ga karuan masa depannya sebagai penerus bangsa... 
aah...bener2 bikin prihatin. 
 
apa ga sekalian aja negara kita dijual ke USA? 
hahaha,,,toh peluang tambah miris dan tambah majunya sama besar kan?
6. phobia idih
Ditulis oleh Alamat email ini telah dilindungi dari spam bots, Javascript harus aktif untuk melihatnya website, pada tanggal : 07-07-2008 01:55
Masyarakat kita kekinian semakin dipolakan menjadi manusia yang phobia. Tapi mau gimana lagi, berbenturan dengan sebuah sistem yang terbentuk tidak hanya dalam hitungan tahun tentu saja adalah hal yang tidak mudah. Salah satu akibatnya ya melahirkan manusia-manusia yang mudah patah semangat. 
Mengapa hasil UAN jadi kacau? Dan mental remaja kita menjadi nggak karuan? Tentu kurang bijak kalau semata-mata menyalahkan pemerintah. Masyarakat sendiri seperti kurang merasa butuh akan pendidikan. Banyak yang menganggapnya sebagai \'iseng-iseng berhadiah belaka.\' Kurikulum yang terus berubah mengikuti pejabat yang sedang berkuasa ya memang merepotkan. Tapi EmEm ya jangan patah semangat dong. Apalagi sampai jual negera ke US, alamak... 
Yang menarik adalah, banyak teman-teman yang menganggap menjadi yang terbaik adalah tuntutan orang lain, bukan tuntutan diri sendiri. Mustinya kan kita sendiri yang butuh menjaga jiwa dan pikiran kita, bukan karena tuntutan masyarakat dan keluarga juga pemerintah. 
 
salam
7. konsep evaluasi kihadjar
Ditulis oleh Alamat email ini telah dilindungi dari spam bots, Javascript harus aktif untuk melihatnya , pada tanggal : 08-07-2008 01:54
Mungkin Ki Hadjar menangis saat ini sambil melihat kita dan anak-anak bangsa. Mungkin tiada jalan lain, jangan terlalu mengharap pencerahan dari pamong/dosen2.  
Taman Siswa gak akan bisa bicara di Nasional, jika orang2 tua nya masih seperti ini. Temen2, Kita yang muda-muda harus berjuang sendiri. Jangan terlena pada sejarah melulu.

Beri Komentar
  • Silahkan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam, marketing, pribadi, dsb.
  • Pastikan anda me-REFRESH halaman ini untuk mendapatkan kode security yang baru sebelum anda menekan tombol kirim.
Nama :
E-mail :
Homepage :
Judul :
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar :



Kode :* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow

Terakhir diperbaharui ( Selasa, 01 April 2008 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

Newsflash

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu!”

(Soewardi Soerjaningrat, “Als Ik Eens Nederlander Was”, De Express, 1913) 

 

Last comments

RUU BHP DAN GERAKAN TAMAN SISW...
ada kepentingan dibalik pengesahan RUU B
Mengingat belum lama ini pemerintah merencanakan akan mengal...
02/01/09 10:39 Selebihnya...
Komentar tio

RUU BHP DAN GERAKAN TAMAN SISW...
wajah pemerintahan
inilah wajah pemerintahan kita. DPR seolah tidak berotak ket...
24/12/08 20:13 Selebihnya...
Komentar echa

RM SUWARDI SURYANINGRAT BANGSA...
Ki Hadjar Dewantara Bapak Bangsa Sejati
Salam dan Bahagia, Saya adalah alumni Tamansiswa dari Taman...
13/12/08 17:29 Selebihnya...
Komentar Ki Sudartono PS,S.Pd

REUNI ALUMNI TAMANSISWA
kanggeen.....
:cry kngenn nich sama alumni UST FE 2000 dimana kalian sk...
09/12/08 12:13 Selebihnya...
Komentar iin ps

KEKELUARGAAN DI TAMANSISWA B...
Nama jalan..??
Mas, maksud saya memang nama "Ki Hadjar Dewantara" yg dijadi...
25/11/08 18:10 Selebihnya...
Komentar Deni A. S. Azhari

Weblinks

Selebihnya...

Statistics

Anggota: 2
Berita: 44
WebLink: 12