| Membaca dan Menulis |
|
|
|
| Ditulis oleh PIJAR | ||||||||
| Senin, 07 Januari 2008 | ||||||||
|
Pijar Oktober. Membaca dan Menulis Menulis, dalam arti mengarang, ialah kegiatan mencurahkan pikiran melalui tulisan untuk diketahui orang lain. Hakekat menulis kegiatan komunikasi, menyampaikan pesan kepada orang lain melalui media tulisan. Agar pesan dapat dimengerti orang yang diajak berkomunkasi, tulisan harus tersusun, teratur dan memenuhi kaidah-kaidah pengikat. Karangan tidak tersusun, tentu tidak memiliki makna apapun.. Hanya sekumpulan kata atau kalimat yang tidak berarti. Karangan yang tidak diatur, tentu sulit difahami dan sulit dimengerti. Bahkan orang yang membaca karangan itu pun bisa salah paham atau menjadi bingung. Sedangkan karangan yang tidak terikat kaidah-kaidah penulisan, dapat mengaburkan gagasan atau konsep yang akan disampaikan. Karangan yang tidak terikat, akan mencapai cakupan yang sangat luas pengertiannya. Bahkan suatu gagasan akan terungkap berulang-ulang. Menyadari pentingnya menulis, tentu pelajaran membaca dan menulis di sekolah tidak terhindarkan lagi. Namun seringkali terdapat kekeliruan persepsi dan implementasi atas pelajaran membaca dan menulis itu. Pelajaran membaca dan menulis diberikan kepada peserta didik tidak tepat waktu dan tepat sasaran. Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mensinyalir, terdapat sejumlah Sekolah Dasar (SD) yang melakukan uji baca, tulis dan berhitung bagi calon siswanya. Padahal sesungguhnya, calon siswa SD seharusnya belum mendapat membaca dan menulis di Taman Kanak-kanak (TK). Jika hal itu yang terjadi maka secara hukum, sekolah tersebut dapat dikategorikan sebagai menghambat layanan wajib belajar. Ketentuan penerimaan siswa SD bukan atas dasar kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Tetapi seleksi berdasarkan usia. Prinsipnya, calon siswa SD berusia 7 tahun harus diterima. Bagi yang berusia 6 tahun dapat diterima di kelas I SD. Tamat TK bukan merupakan prasyarat masuk SD. Prakteknya, ada sebagian besar SD yang mempersyaratkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung serta tamat TK, sebagai pertimbangan dapat diterima tidaknya calon siswa, disamping usia. Kita sebagai bangsa memang cakap membuat aturan, namun tidak cakap mematuhinya. TK merupakan pendidikan pra-sekolah. Bukan jenjang yang tepat untuk belajar membaca, menulis dan berhitung. Jika dipaksakan, maka telah terjadi pemaksaan atas beban belajar di luar batas kemampuan rata-rata anak berdasar usianya. Jika hal ini yang terjadi, rusaknya pendidikan anak-anak oleh guru sendiri. Rusaknya pendidikan anak-anak yang dilakukan guru bukan tanpa sebab. Faktor orangtua sangat berperan. Kebanyakan orangtua sangat bangga jika anaknya yang berusia pra-sekolah sudah mampu membaca, menulis dan berhitung. Sementara ada guru SD yang malas memberikan pelajaran membaca, menulis dan berhitung permulaan, karena kebijakan sekolah dan/atau keterbatasan kemampuan. Maunya mereka “terima jadi”. Biarkan anak-anak belajar membaca, menulis dan berhitung kepada guru TK, ,meskipun itu belum waktunya. Persepsi masyarakat, TK bermutu adalah yang memberikan pelajaran membaca, menulis dan berhitung. SD bermutu adalah yang mengajarkan pengetahuan intelektual pada kelas rendah. Sehingga anak-anak nampak lebih pintar. Sekolah-sekolah inilah yang kemudian dikategorikan sebagai favorit. Secara empiris hal ini dapat dibuktikan. TK yang tidak mengajarkan membaca menulis dan berhitung sangat sulit mendapat siswa. SD yang baru mengajarkan membaca, menulis dan berhitung permulaan di kelas I, cenderung kekurangan siswa. Sebaliknya, TK dan SD yang melakukan “salah kaprah” atas pembelajaran membaca menulis dan berhitung permulaan, diserbu dan menolak calon siswa. Ironis, penyelenggara TK dan SD yang seharusnya meluruskan paradigma keliru tersebut, malah turut serta mengeksploitasi kesalahkaprahan! Dalam teori pendidikan klasik, mendidik anak-anak pra-sekolah dan kelas-kelas rendah belum untuk memberi pengetahuan intelektual. Pendidikan lebih ditekankan pada usaha menyempurnakan rasa. Yang harus dikembangkan adalah kecerdasan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan pengendalian emosinya.. Pendidikan pra-sekolah sesungguhnya ditekankan pada bagaimana menumbuhkan perasaan senang berimajinasi, menggunggah dan menggali hal-hal kecil di sekitarnya. Jika anak sudah senang terhadap hal-hal tersebut, dengan sendirinya minat dan potensi akademiknya akan tumbuh tepat pada waktunya, ialah ketika tantangan dan tuntutan hidupnya semakin besar. Pendidik kanak-kanak sekaliber Montessori, Frobel, Tagore dan Ki Hadjar Dewantara, tidak satupun yang menyetujui pendidikan anak-anak pra-sekolah yang menekankan pengetahuan intelektual. Seharusnya pelajaran panca indera dan permainan yang menjadi muatan utama pendidikan pra-sekolah. Pelajaran panca indera dan permainan sebagai pekerjaan lahir untuk mendidik batin. Di dalam hidupnya anak-anak, permainan adalah hal yang sangat penting. Bermain adalah pekerjaan utama anak-anak. Anak-anak akan mengisi seluruh waktunya untuk bermain. Belajar pun harus dalam suasana bermain. Bahkan Ki Hadar Dewantara menyebut TK bukan sebagai sekolah. Namun sebagai Taman, yaitu Taman Indria. Taman adalah ‘suatu tempat yang menyenangkan untuk bermain’. Indria adalah ‘alat kelengkapan fisik manusia yang perlu dilatih agar dapat berfungsi maksimal’. Jadi Taman Indria adalah ‘tempat bermain untuk melatih indera fisik manusia’. Bukan tempat melatih kecakapan intelektual ! Dalam kegiatan belajar anak-anak, seharusnya guru bagai tukang kebun yang bertugas menyirami, memberikan pupuk, menyiangi dan menjaga tanaman dari gangguan hama dan penyakit. Biarkan mereka tumbuh dengan sendirinya. Kecuali arah tumbuhnya “mbedhal” dari jalur yang benar, otomatis guru hendaknya bertindak. Inilah makna sasanti pendidikan nasional kita “Tutwuri Handayani”. Akibat rusaknya pendidikan anak-anak dewasa ini sudah dapat dirasakan. Dari tidak senangnya anak-anak belajar sehingga tidak “krasan” berada di sekolah. Sampai adanya anggapan sebagian anak-anak bahwa sekolah adalah penjara. ‘Ketimpangan tumbuhnya jiwa raga anak sangat terasa, ketika kedewasaan berpikir rasional lebih cepat berkembang dibanding perkembangan kecakapan spiritual, sosial dan emosional. Tumpulnya empati dan simpati anak didik akibat “tumbuh terlalu cepat”. Segala sesuatu oleh anak dipikirkan dalam pendekatan benar dan salah, mengesampingkan pendekatan baik dan buruk’. Kesalahkaprahan dalam pendidikan anak yang nampak benar ini, harus segera disadari untuk diakhiri. Kembalikan anak-anak ke alamnya, yaitu Alam Bermain dan Alam Panca Indera. Semoga.- Ki Sugeng Subagya Pamong Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta Tambahkan sebagai artikel favorit anda (13) | Pasang Artikel ini pada situs anda | Views: 1163
|
||||||||
| Terakhir diperbaharui ( Senin, 07 Januari 2008 ) | ||||||||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
|
Kalau dulu tidak ada orang yang bernama Suwardi Suryanigrat yang kemudian menjadi Ki Hadjar Dewantara, keadaan pergerakan kebangsaan Indonesia niscaya tak akan seperti yang kita alami. - Bung Karno (Presiden RI pertama) - |
| RUU BHP DAN GERAKAN TAMAN SISW... |
|
ada kepentingan dibalik pengesahan RUU B Mengingat belum lama ini pemerintah merencanakan akan mengal... |
| 02/01/09 10:39 Selebihnya... |
| Komentar tio |
| RUU BHP DAN GERAKAN TAMAN SISW... |
|
wajah pemerintahan inilah wajah pemerintahan kita. DPR seolah tidak berotak ket... |
| 24/12/08 20:13 Selebihnya... |
| Komentar echa |
| RM SUWARDI SURYANINGRAT BANGSA... |
|
Ki Hadjar Dewantara Bapak Bangsa Sejati Salam dan Bahagia, Saya adalah alumni Tamansiswa dari Taman... |
| 13/12/08 17:29 Selebihnya... |
| Komentar Ki Sudartono PS,S.Pd |
| REUNI ALUMNI TAMANSISWA |
|
kanggeen..... :cry kngenn nich sama alumni UST FE 2000 dimana kalian sk... |
| 09/12/08 12:13 Selebihnya... |
| Komentar iin ps |
| KEKELUARGAAN DI TAMANSISWA B... |
|
Nama jalan..?? Mas, maksud saya memang nama "Ki Hadjar Dewantara" yg dijadi... |
| 25/11/08 18:10 Selebihnya... |
| Komentar Deni A. S. Azhari |