| KEKELUARGAAN DI TAMANSISWA BUKAN NEPOTISME |
|
|
|
| Pikiran Ki Hadjar | ||||||||||||
| Ditulis oleh Ki Priyo Dwiarso | ||||||||||||
| Sabtu, 23 Pebruari 2008 | ||||||||||||
|
Pakar manajemen Hermawan Kertajaya pernah mengatakan bahwa di kalangan masyarakat Mandarin ada system nepotisme yang tidak berkonotasi negatif. Dalam nepotisme yang disebut GUAN SIE ada aturan mengutamakan kerabat dekat untuk diajak kerjasama berkarya, namun reward dan punishment harus dilaksanakan dengan konsisten. Bila anak kandungnya yang bertugas menjaga toko mangkir, maka honorariumnya dipotong setara dengan absennya. Rekruitmen pegawai dilaksanakan secara obyektif sesuai fungsi dan kemampuannya. Bila kerabatnya belum mampu melaksanakan beban tugas, lebih dulu dikirim ke pendidikan yang sesuai. Kekerabatan dalam guan sie terasa lebih konsisten dan konsekuen terhadap aturan profesionalisme kerja. Disinilah antara lain letak sisi keunggulan masyarakat Mandarin dibanding pebisnis golongan lain. Bila ada warga Mandarin yang melakukan manipulasi di sebuah organisasi/perusahaan akan terisolir dari komunitasnya. Dengan demikian masyarakat yang berada dalam lingkungan guan sie (nepotisme?) akan terdidik untuk berpikiran lebih dewasa dan professional dalam berkarya. Sebaliknya dalam istilah NEPOTISME dan KOLUSI mengandung pengertian negatif yaitu mementingkan kerabat terdekat dengan menutupi kelemahannya serta tidak konsisten melaksanakan punishment walau kerabatnya tidak kredibel atau melakukan kesalahan/manipulasi. Dalam lingkup nepotisme ini orang jadi manja, tidak dewasa dan sangat tergantung pada kerabat koneksinya. Suasana kerja tidak kondusif dan perasaan iri pegawai yang lain berkembang bagai api dalam sekam. Bila kepercayaan dan obyektifitas tidak terjaga, maka kemerosotan kinerja tinggal menunggu waktu saja. Dalam pengertian ini nepotisme menjadi penyakit berbahaya dalam tubuh organisasi. Nepotisme merupakan lahan subur untuk tumbuhnya bibit penyakit korupsi kanker bangsa. KEKELUARGAAN DI TAMANSISWA Kadang orang salah tafsir dengan sistem kekeluargaan dalam tubuh Tamansiswa. Umumnya orang berpendapat tentang adanya “keluwesan” dalam keramahan hidup berkeluarga. Banyak memaafkan rekan kerja yang melakukan kesalahan bahkan manipulasi. Pendapat semacam ini mendekati pengertian nepotisme yang jelas menyimpang dari makna yang dikonsepkan Ki Hadjar Dewantara tentang hidup dalam suasana kekeluargaan. Sejatinya sistem kekeluargaan konsep Ki Hadjar Dewantara bukanlah nepotisme. Istilah keluarga dalam konsep Ki Hadjar Dewantara adalah dalam konteks pendidikan-pengajaran yaitu “alam keluarga” yang dibawa masuk kedalam suasana sekolah. Sehingga sang anak diharapkan tidak merasa asing dengan lingkungan sekolahnya. Di sekolah yang bernuansa keluarga itu ada kasih sayang, ada demokrasi, ada kemerdekaan diri. Kondisi inilah yang ditargetkan dalam konsep Pondok Asrama dan Wiyatagriya (schoolwoning type). Konsep ini dimaksudkan untuk menyatukan kehangatan keluarga di rumah dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah agar anak merasa akrab dan kondusif. Pelaksanaan tugas kesiswaan dilaksanakan tanpa paksaan dalam kemerdekaan pribadi. Suasana ini memacu kreasi dan inovasi siswa dalam mengembangkan ilmunya. Pamong/guru diupayakan tinggal di halaman sekolah dan menjadi pengganti bapak ibu siswa dengan segala welas asih, kearifan, dan kehangatan dalam KBM (wiyatagriya). Ki Hadjar Dewantara sadar bahwa peran bimbingan bapak ibu secara kodrati sangat dibutuhkan sang anak. Lebih sempurna lagi apabila siswa juga bisa tinggal dalam asrama sekolah. Semacam pondok asrama yang dipraktekkan di SMA Taruna Nusantara Magelang yang mengadopsi konsep Tamansiswa. Dalam kegiatan sekolah sang anak tidak tercerabut sifat kodratinya dan tumbuh di media alam keluarganya. Ki Hadjar Dewantara terinspirasi kepada paguron tradisional semacam padepokan, pawiyatan atau pondok pesantren warisan budaya leluhur kita. Karena keterbatasan teknis beberapa cabang Tamansiswa telah melaksanakan konsep pondok asrama diawali khusus kelas akhir menghadapi UNAS. Pada hari Sabtu dan Minggu para siswa menginap di sekolah dan mendapat pelajaran tambahan serta pendidikan budi pekerti. Interaksi pamong dan siswa berlangsung dalam kehangatan dan kasih sayang keluarga besar Tamansiswa yang salam dan bahagia. Cabang Tamansiswa yang melaksanakan program ini pada umumnya tingkat kelulusannya 100%. Suasana kekeluargaan dalam wiyatagriya sangat mendukung pelaksanaan metoda among sistem dengan tujuan agar anak dapat mencapai kemerdekaan lahir batin, merdeka jiwanya, merdeka tenaganya, merdeka raganya. Konsep kekeluargaan ini sangat jauh dari pengertian nepotisme, tambahan pula ada sanksi peraturan Tri Pantangan Tamansiswa. Perguruan tidak mau kompromi dengan anggota yang melanggar tri pantangan yaitu pantang menyalah gunakan kekuasaan, keuangan dan kesusilaan. Peraturan SDM Tamansiswa menyebutkan, barang siapa yang melanggar tri pantangan segera diberhentikan sebagai anggota (PHK). Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga kemurnian azas, landasan perjuangan, ciri khas dan tujuan persatuan Tamansiswa. Deviasi pengertian istilah keluarga juga terjadi dalam konsep “keluarga suci”. Bukan sekedar anggota yang suci dan mematuhi tri pantangan. Wujud dan sifat Tamansiswa merupakan keluarga suci yaitu (ajaran) Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak dan Azas Tamansiswa 1922 sebagai ibunya. Anggota Tamansiswa yang sejati adalah merupakan produk keluarga suci Tamansiswa yang paham dan mengamalkan ajaran Ki Hadjar Dewantara berlandaskan Azas Tamansiswa 1922. Piagam Persatuan Perjanjian Pendidiran Tamansiswa 1930 menyebutkan bahwa Azas Tamansiswa 1922 tetap hidup sebagai pokok yang tidak boleh berubah, tidak boleh disangkal dan tidak dikurangi oleh sesuatu peraturan atau adat dalam kalangan Tamansiswa selama nama Tamansiswa hidup terpakai. Sendi organisasi dalam Peraturan Dasar ps 7 (4) menyebutkan perguruan bersendikan hidup kekeluargaan yang merupakan perpaduan dasar demokrasi dengan pimpinan kebijaksanaan serta tumbuhnya kesadaran akan hak azasi dan kewajiban azasi yang selaras dan seimbang. Hubungan kekeluargaan dalam arti dan sifat yang sebaik-baiknya (bukan yang negatif) berdasarkan kata mufakat. Giat Wahyudi dalam bukunya “Sketsa Pemikiran Ki Hadjar Dewantara” (2007) mencantumkan kelebihan konsep Ki Hadjar Dewantara antara lain pada unsur kultural dan filosofis yang demikian kuat melandasi sistem pendidikannya. Seperti diangkatnya model kekeluargaan dalam sistem pendidikan Tamansiswa. Pengertian hidup kekeluargaan yang benar harus dimulai dari pembinaan bapak ibu di rumah. Setiap rumah tangga adalah agen pembangunan bangsa yang tidak boleh diabaikan. Selalu ada benang merah antara mutu produk intelegensi anak dengan mutu harmonisasi keluarganya. Dalam keluarga yang broken hampir tidak mungkin menghasilkan mutu anak yang baik. Pada awal abad 20 peran keluarga di Nusantara didominasi peran bapak dan hampir tidak terlihat peran ibu dalam pendidikan anak. Ketimpangan ini disikapi Ki Hadjar Dewantara dengan konsep-konsep tersebut di atas. Peran wanita di Tamansiswa diberdayakan dalam organisasi WANITAS (Wanita Tamansiswa) yang mengadakan konggres bersamaan dengan konggres persatuan Tamansiswa. Ki Hadjar Dewantara pernah berujar, saya tidak akan menjadi manusia yang berarti tanpa peran isteri saya yang mendorong dan memberi semangat hingga saya seperti ini. Jiwa seni Ki Hadjar Dewantara disalurkan kepada penciptaan gending “Wasito Rini” yang berisi petuah luhur kepada kaum wanita. Sejatinya Wasito Rini yaitu wanita sebagai rahim bangsa tidak boleh meninggalkan kesusilaan dan budi luhur. Keluarga yang salam dan bahagia mewujudkan masyarakat yang tertib dan damai berdasarkan Pancasila. (Ki Priyo Dwiarso, anggota Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa) Tambahkan sebagai artikel favorit anda (14) | Pasang Artikel ini pada situs anda | Views: 1175
|
||||||||||||
| Terakhir diperbaharui ( Sabtu, 23 Pebruari 2008 ) | ||||||||||||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
|
Bila Engkau melihat anak bangsa, lihatlah sebagaimana mawar, jika engkau melihat janganlah engkau pandang durinya, sebab jika engkau pandang durinya engkau akan membayangkan tempat sampah dan lubang pembakarannya; maka lihatlah mawarnya, dan jika engkau melihat mawarnya maka engkau akan menjadi penjaga taman. - Ki Hadjar Dewantara - |
| KEKELUARGAAN DI TAMANSISWA B... |
|
Halo, sekolahku! Haloo, Tamansiswa! Kangennya sama sekolah satu ini... Saya... |
| 12/11/08 16:01 Selebihnya... |
| Komentar Zee |
| KEKELUARGAAN DI TAMANSISWA B... |
|
Nama Jalan? Tamansiswa Sebenarnya pesan Ki Hadjar Dewantara adalah tidak boleh mema... |
| 11/11/08 22:51 Selebihnya... |
| Komentar Administratror |
| KEKELUARGAAN DI TAMANSISWA B... |
|
Gimana niy...??? Salam dan bahagia... Saya anak Tama Tamsis Binjai. Saya ... |
| 10/11/08 16:07 Selebihnya... |
| Komentar Deni A. S. Azhari |
| Konstruktivisme dalam Pemikira... |
|
tisam doAng hy nm quw kevin Zulianda putra quw anak binjai jl. bu... |
| 06/11/08 19:26 Selebihnya... |
| Komentar keviN ZuLianDa PuTra |
| KEKELUARGAAN DI TAMANSISWA B... |
|
Alumni Taman Siswa Lha,kog website Taman Siswa Binjai gak bisa di buka.Padahal ... |
| 24/10/08 09:35 Selebihnya... |
| Komentar J.Siregar |