Tamansiswa untuk Nation and Character Building
Ditulis oleh I Nyoman Jelun   
Kamis, 31 Juli 2008
    Pada tgl. 15 Januari 2008 yang lalu, di Kampus Kebangsaan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Jln. Kusumanegara 157 Yogyakarta  berlangsung Saresehan Kebangsaan dengan tema:
                   “……… als ik eens Indonesier was ………”
Tema saresehan itu merupakan refleksi dari judul artikel Ki Hadjar Dewantara (KHD) pada sebuah harian terbitan pribumi pada tahun 1913 dengan judul: ” als ik eens Nederlander was”. Melalui artikel itu, KHD menyindir Pemerintah Kerajaan Belanda yang sedang  memperingati 100 thn kemerdekaannya dari penjajahan Prancis (Napoleon Bonaparte). Mereka memperingatinya secara besar-besaran, meriah, dengan berpesta pora menghamburkan banyak uang yang diperoleh dari memeras kekayaan negeri jajahannya. Pesta itu digelar diseluh negeri jajahannya dimana rakyat hidup miskin dengan uang sebenggol sehari, bodoh, dan tidak berdaya. Dalam artikel itu, secara ekplisit KHD berkata: Jika saya seorang Belanda maka saya akan sangat malu memperingati hari kemerdekaan bangsa saya dengan merampas kemerdekaan bangsa lain.  Setelah menulis artikel itu KHD diasingkan ke negeri Blanda.
Nation and Character Building melalui Tulisan
Pada awal perjuangannya, KHD bergabung dalam gerakan Boedi Utomo untuk membangun kesadaran berbangsa dan bernegara (nation and character building) bagi rakyat Indonesia. Di kemudian hari, hari jadi Boedi Otomo kita peringati sebagai Hari Kebangitan Nasional (Harkitnas). Pada tgl. 20 Mei 2008 ini kita Bangsa Indnesia memperingati Harkitnas yang keseratus. RM Soewardi Soerjaningat muda yang kemudian kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara adalah seorang kolumnis produktif. KHD menulis banyak artikel yang isinya membangun kesadaran berbangsa, dan bernegara bagi kaum pribumi, menulis  kezaliman dan keserakahan pemerintah kolonial, hingga akhirnya menulis artikel: ”als ik eens Nederlandr was”, yang kemudian menghantarkannya menjalani pengasingan di negeri Belanda.

Tamansiwa pada jaman revolusi
Setelah selesai menjalani masa mengasingan, KHD pulang ke Indonesia, dengan strategi perjuangan baru yaitu dengan cara mencerdaskan kehidupan bangsanya. KHD berpikir bahwa rakyat yang bisa baca tulis, cerdas, dan mencinta bangsanya mudah dimobilisasi dan digerakan untuk Indonesia merdeka.  Akhirnya pada, pada tahun 1922, KHD mendirikan Tamansiswa, sebagai alat perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat dengan menggunakan pendidikan dalam arti luas. KHD menjadikan Tamansiswa sebagai kawah candradimukanya patriot bangsa. Melalui Tamansiswa generasi muda Indonesia dibangun semangat kebangsaannya, rasa cinta tanah airnya, dan ditanamkan nilai-nilai kebinekaan (pluralisme), Dengan konsep Pendidikan yang berdasarkan garis hidup bangsa yang ditujukan untuk keperluan prikehidupan yang dapat mengangkat drajat manusia, bangsa dan negara (Peraturan Besar Tamansiswa 2001, pasal 7 ayat 3. konsepsi dasar Pendidikan) Tamansiswa pernah mengalami kejayaan.
Pada jaman kejayaannya, Cantrik-cantrik Tamansiswa disadarkan bahawa kaum pribumi (inlander) adalah bangsa yang terjajah, dijajah oleh tuan menir yang berkulit putih. Walaupun ada sekolah  negeri yang didirikan oleh Belanda ketika itu, tetapi semangatnya adalah untuk mencetak para ambtenar yang siap mengabdi dan bekerja untuk kepentingan penjajah. Berbeda dengan sekolah Tamansiswa yang semangatnya adalah untuk mengangkat derajat manusia, bangsa, dan negara Indonesia. Ketika sebagain besar rakyat Indonesia sadar akan posisinya sebagai bangsa yang terjajah, dan semangat kebangsaannya bangkit, maka Tamansiswa mendapat dukungan rakyat sehingga berkembang pesat, cabang-cabangnya berdiri di seluruh Nusantara.  
Pada jaman revolusi, Tamansiswa memberi banyak kepada negeri ini. Dari Tamansiswa banyak pahlawan kemerdekaan lahir yang berjuang untuk Indonesia merdeka. Dari Tamansiswa tumbuh kader-kader nasionalis, yang pada awal kemerdekaan perannya sangat signifikan di negeri ini. Banyak menteri di jabat oleh orang-orang Tamansiswa. Konsep pendidikan Tamansiswa menjadi sokogurunya sistem pendidikan Nasional,  hingga lambang Departeman Pendidikan Nasional diambil dari ikon Tamansiswa yaitu Tut Wuri Hadayani.



Nation and character building untuk berhubungan dengan keadaban bangsa asing

     Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia menjadi negara merdeka dan berdaulat. Bangsa  Indonesia setara dengan bangsa Belanda, Jepang, Inggris, Perancis dll, karena sama-sama bangsa yang berdaulat, sama-sama berperintahan sendiri. Bangsa Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang anti penjajahan. Semangat anti penjajahan itu tercantum dalam pembukaan UUD ’45.  Kemudian, Indonesia mengalang kekuatan dunia untuk menentang penjajahan, menjadi pelopor gerakan Asia Afrika,  dan gerakan Non Blok dengan konsep Dasa Sila Bandungnya. Akhirnya setelah negara-negara Asia Afrika memperoleh kemerdekaannya, tidak ada lagi subordinasi antara penjajah dengan yang terjajah, tuan menir dengan inlander,  londe dengan primbumi, kawan dengan lawan. Seolah-olah perjuangan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa dunia ketiga sudah  sudah berakhir, dan proses nation and character building berakhir, benarkah demikian? Apakah dengan proklamasi 17 Agustus 1945 proses nation and character building Indonesia telah berakhir?
    Penjajahan pada dasarnya  adalah ekploitasi, ekploitasi manusia atas manusia, ekploitasi bangsa atas bangsa lain dalam segala aspek kehidupan. Masalahnya adalah bagamana kita dapat mengindentifikasi, dan merumuskan secara tegas bentuk eksploitasi sebagai penjajahan model baru. Sudahkan kita merdeka secara ekonomi? Sudahkah kita merdeka secara politik? Sudahkah kita mandiri dalam berbudaya?  Dengan kekuatan modalnya, dengan kemajuan teknologinya, dan dengan dominasi budayanya lewat media elektronik, negara-negara maju yang nota bene dulu adalah negara penjajah dapat mempengaruhi cara berpikir dan prilaku manusia di negara-negara berkembang. Terlebih lagi dalam era informasi ini, dominasi budaya manca sangat kuat. Melalui media komunikasi elektronik secara tidak sadar penetrasi budaya masuk hinga ke rumah-rumah tanpa dapat dihalangi. Melalui muatan acaranya, televisi dapat mengubah cara berpikir dan prilaku pemirsanya sesuai dengan pesan/semangat pemilki modal.  Melalui internet semua orang tanpa memandang status, umur, pendidikan, dlsb dapat mengakses berbagai macam informasi, hingga anak-anak di bawah umur bebas mengakses situs-situs porno. Sampai akhirnya Indonesia melalui Menkopindonya menyatakan perang terhadap pornografi di internet sebagai reaksi terhadap dominasi budaya model baru. Ujung dari semuanya itu adalah untuk mengubah cara berpikir yang berlandaskan pada kebijakan lokal  menjadi cara berpikir indipidualis, materialistis, dan hedonis.  Kasus-kasus  korupsi, pemalakan hutan, tawuran masal, gerakan sparatisme di Indonesia adalah akibat dari pengingkaran terhadap nilai-nilai kebijakan lokal kita sebagai bangsa dan pertanda lunturnya nilai kebersamaan dan rasa kebangsaan.  Tanda-tanda itu mengingatkan kembali bahwa nation and character building Indonesia masih harus terus diperjuangkan.
    Kondisi bangsa Indonesia kini sudah diprediksi oleh KHD pada tahun 1922, yang dimuat dalam asas Tamansiswa 1922 butir 3: “Tantangan   zaman yang akan datang, maka rakyat kita ada dalam kebingungan. Seringkali kita tertipu oleh keadaan yang kita pandang perlu dan laras untuk hidup kita, padahal itu adalah keperluan bangsa asing yang sulit didapatnya dengan alat penghidupan kita sendiri. Demikian kita acapkali merusak sendiri kedamaian hidup kita. Lagi pula kita sering juga mementingkan pengajaran yang hanya menuju terlepasnya pikiran (intelektualisme), padahal pengajaran itu membawa kita kepada gelombang penghidupan yang tidak merdeka (economishch afhankelijk) dan memisahkan orang-orang terpelajar dengan rakyatnya. Di dalam zaman kebingungan ini seharusnyalah keadaban kita  sendiri (cultuurhistorie) kita pakai sebagai petunjuk jalan untuk mencari penghidupan baru yang selaras dengan kodrat kita dan akan memberi kedamaian dalam hidup kita. Dengan keadaban bangsa kita sendiri kita lalu pantas berhubungan dengan keadaban bangsa asing.”

Kembali kejati diri
Agar dapat sejajar dengan bangsa-bangsa asing dalam pergaulan internasional atau tidak larut dalam arus globalisasi, maka bangsa Indonesia harus kembali pada jati dirinya, menjadi Pancasila sebagai landasan dan bintang petunjuk arah nation and charakter building Indonesia. Dan saya setuju dengan SBY, bahwa, Bangsa ini membutuhkan pembentukan karakter dan watak, yaitu Pertama, karakter bangsa yang  bermoral (religius). Bangsa ini harus sarat dengan nilai-nilai moral dan etika keagamaan sebagai sebuah pandangan dan praktek. Kedua, karakter bangsa yang beradab. Beradab  dalam arti luas menjadi suatu bangsa yang memiliki karakter berbudaya dan berprikemanusiaan. Ketiga,  karakter bangsa yang bersatu. Di dalamnya termasuk menegakkan toleransi, tidak mungkin kita bersatu tanpa adanya toleransi, harmonis dan bersauara. Keempat, Karakter bangsa yang berdaya. Dalam arti luas, berdaya berarti menjadi bangsa yang berpengetahuan (knoledgeble), trampil(skillful), berdaya saing (competitive) secara mental, pemikiran maupun teknis. Daya saing bukan hanya sekedar dalam arti materi dan mekanik, melainkan dalam makna secara mental, hati dan pikiran kita, yakni state of mind. Kemampuan ini mengembangkan keyakinan bahwa kita akan sejajar dengan Singapura maupun Tailand, kita secara perlahan akan mendekati Eropa sambil berkeyakinan bahwa sekian tahun lagi kita akan sara dengan Jepang. Kelima, karakter bangsa yang berpartisipasi. Partisipasi amat diperlukan untuk  menghapus sikap masa bodoh, mau enaknya saja, dan tidak pernah peduli dengan nasib bangsa. Karakter partisipasi ini ditandai dengan penuh peduli, rasa dan sikap tanggung jawab yang tinggi, serta komitmen yang tumbuh menjadi karakter dan watak bangsa Indonesia.
Demikianlah, kini Tamansiswa, harus dapat merumuskan dan mendeskripsikan penjajahan model baru, dan dengan konsep-konsep pendidikannya, dan dengan menjadikan Pancalisa sebaga dasar gerak dan bintang pentunjuk arah perjuangan mendidik generasi muda untuk nation and character building Indonesia, sehingga kita lalu pantas berhubungan(sejajar) dengan keadaban bangsa lain.

Tambahkan sebagai artikel favorit anda (191) | Pasang Artikel ini pada situs anda | Views: 3286

  Komentar (1)
RSS comments
1. Manusia yang harus menguasai teknologi
Ditulis oleh Alamat email ini telah dilindungi dari spam bots, Javascript harus aktif untuk melihatnya , pada tanggal : 12-05-2010 12:52
Saya mau mengutip tentang, “Tantangan zaman yang akan datang, maka rakyat kita ada dalam kebingungan, bahwasanya itu benar-benar terjadi saat ini. Para pendidik sekarang ini mengutamakan pengajaran melupakan arti / hakiki dari pendidikan itu sendiri. siswa-siswa diajak untuk berlomba-lomba untuk pintar, namun mereka terabaikan akan kasih sayang dan suri tauladan dari sang guru. Sehingga yg terjadi saat ini banyak siswa yg pintar namun hampa hati nuraninya. Mereka menjadi liar, kasar dan egois. 
Inilah tantangan pendidikan saat ini.

Beri Komentar
  • Silahkan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam, marketing, pribadi, dsb.
  • Pastikan anda me-REFRESH halaman ini untuk mendapatkan kode security yang baru sebelum anda menekan tombol kirim.
Nama :
E-mail :
Homepage :
Judul :
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar :



Kode :* Code
I wish being prevented by email of the comments which will follow

Terakhir diperbaharui ( Sabtu, 02 Agustus 2008 )