Fobia terbagi menjadi dua yaitu fobia spesifik dan kompleks. Cari tau kondisi fobia yang mungkin Anda alami disini, untuk penanganan yang tepat.

Pernah mendengar istilah fobia? Fobia atau phobia merupakan perasaan takut yang berlebihan karena objek ataupun kondisi situasi tertentu. Ketakutan ini juga bahkan bisa menimbulkan depresi, kecemasan dan juga kepanikan. Fobia dibagi menjadi dua berdasarkan jenis ketakutannya, yaitu fobia spesifik dan fobia kompleks.

Fobia spesifik ini bisa mulai muncul dan berkembang sejak kanak-kanan ataupun remaja. Contoh fobia spesifik ini adalah fobia hewan, fobia situasi seperti berkunjung ke dokter, fobia seksualitas seperti takut tertular penyakit terkait seksual, ataupun fobia secara fisik seperti takut darah atau jarum suntik.

Sedangkan fobia kompleks biasanya berkembang ketika dewasa. Contohnya adalah fobia sosial. Biasanya orang yang memiliki fobia ini akan merasakan cemas saat berada di lingkungan sosial. Hal ini terjadi karena mereka takut dipermalukan oleh orang lain ataupun takut mempermalukan diri sendiri di depan banyak orang. Selain itu takut pada tempat-tempat yang membuat mereka merasa terperangkap juga termasuk dalam fobia kompleks.

Fobia juga akan menimbulkan dampak pada kondisi fisik seseorang, seperti:

  • Disorientasi atau merasa bingung
  • Sakit kepala dan pusing
  • Merasa mual
  • Sesak dan nyeri pada bagian dada
  • Sesak napas
  • Meningkatnya detak jantung
  • Tubuh merasa gemetar dan juga berkeringat
  • Telinga berdengung
  • Keinginan selalu buang air kecil
  • Mulut terasa kering

Penyebab Fobia

  • Peristiwa yang menyebabkan trauma. Fobia bisa muncul setelah seseorang mengalami peristiwa yang menimbulkan trauma, misalnya seperti diserang oleh hewan, atau terjebak di suatu ruangan, dan lainnya.
  • Temperamen tinggi. Seseorang yang mempunyai kepribadian terlalu sensitif, berpikiran negatif, dan pemalu biasanya akan lebih mudah mengalami fobia.
  • Banyak dugaan yang mengatakan bahwa fobia dapat diwarisi. Jadi apabila salah satu keluarga ada yang memiliki fobia tertentu, bisa saja Anda akan mengalami fobia tersebut.

Diagnosis Fobia

Untuk seseorang yang mengalami fobia spesifik, biasanya penderita jarang memeriksakan diri. Karena biasanya penderita mengetahui objek yang mereka takuti macam macam pepes ikan ikan mas. Sehingga kondisi fobia ini jarang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Bagi penderita fobia kompleks, dokter biasanya akan memeriksa apakah Anda mengalami gejala-gejala yang menunjukkan adanya fobia sosial atau takut pada tempat-tempat yang bisa membuat Anda terperangkap.

Pengobatan Fobia

Penanganan untuk fobia biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu terapi dan obat-obatan. Terapi yang biasa dilakukan yaitu seperti terapi kognitif yang akan dikombinasikan dengan terap pemaparan atau desensitisasi. Perasaan takut penderita akan dikurangi dengan meningkatkan frekuensi paparan objek atau situasi tertentu secara perlahan dan bertahap pada terapi kombinasi ini. Terapi kombinasi ini sering dipakai dokter untuk menangani fobia dibanding dengan metode lain, misalnya obat-obatan.

Penanganan Dengan Obat-Obatan

Obat-obatan yang diberikan pada penderita fobia biasanya ditujukan untuk menenangkan diri penderita dan juga mengendalikan rasa takut atau paniknya pada objek atau situasi tertentu. Obat yang biasa diberi adalah obat antidepresan jenis penghambat pelepasan serotonin (SSRI). Obat tersebut akan mempengaruhi transmiter di otak yang bernama hormon serotonin. Serotonin ini berperan untuk menciptakan dan juga mengatur suasana hati seseorang.

Obat penghambat beta juga merupakan jenis obat yang akan diberikan. Biasanya akan digunakan dalam jangka pendek, karena obat ini berguna untuk mengurangi perasaan takut pada situasi tertentu. Obat ini akan menghambat reaksi yang muncul dari stimulasi adrenalin karena rasa cemas.

Selain itu, untuk menangani fobia juga digunakan benzodiazepine yang merupakan golongan obat penenang. Obat ini akan mengurangi perasaan cemas dan juga membantu perasaan penderita menjadi santai. Namun perlu diperhatikan petunjuk dokter dalam penggunaan obat ini, karena dapat berpotensi menyebabkan ketergantungan.